Reviewfrom my brotherSep 18, '07 8:56 PM
for everyone
Category:Books
Genre: History
Author:B4c4

Saya memiliki suami yang seorang insinyur. Saya mencintai sifatnya
yang alami dan menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya
ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Setelah tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam masa
pernikahan, harus saya akui bahwa saya mulai merasa lelah. Alasan-
alasan saya mencintainya dahulu telah berubah menjadi sesuatu yang
menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar
sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis
seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak
pernah saya dapatkan pada dirinya.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya
kurang. Ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis
dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta
yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya
kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa ?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak
pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan".

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak
dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan
darinya ? (gumam ku di dalam hati). Dan akhirnya dia bertanya,

"Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?". Saya menatap
matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya
pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati, saya
akan merubah pikiran saya ".

Sayangku, seandainya saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di
tebing gunung, akan tetapi kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung
itu kamu akan mati, apakah kamu akan melakukannya untukku ?".

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya
besok". Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar
kertas dengan coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu
hangat. Disitu tertulis ... "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga
itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya".

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya, namun saya melanjutkan
untuk membacanya. " Kamu sering mengetik di komputer dan selalu
mengacaukan program-program di PC dan akhirnya menangis di depan
monitor karena panik, namun saya selalu memberikan jari-jari saya
supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.

Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar, dan saya
harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu dan membukakan
pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota
tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya
harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk
mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu "teman baikmu"
datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk
memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah dan saya selalu
kuatir kamu akan menjadi "aneh". Dan harus membelikan sesuatu yang
dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk
menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap
komputermu, membaca buku sambil tidur dan itu semua tidak baik untuk
kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua
nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti
ubanmu.

Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai,
menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-
warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu ".

" Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.
Karena saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi
kematianku. Sayangku, saya tahu ada banyak orang yang bisa
mencintaimu lebih dari apa yang dapat aku lakukan. Namun jika semua
yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku tidak juga cukup
bagimu, maka aku tidak akan bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki,
dan mata lain yang dapat membahagiakanmu ".

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi
kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

" Sayang, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas
dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di
rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang
berdiri didepan menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas sayangku,
biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak
akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia ".

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan
pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti
kesukaanku.

Oh. kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih
dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur
hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan
cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya
telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari
pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

poetoegaul wrote on Sep 18, '07
wah..wah...cerita yang sangat mengharukan
julianbluejazz wrote on Sep 18, '07
Semoga langgeng ya Marriage-nya. Happily ever after....forever!
c3ngg3ng wrote on Sep 24, '07
wah..wah...cerita yang sangat mengharukan
masa sich...hehhehe moga bermanfa'at
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help